PERUBAHAN ISO 9001 VERSI 2015

Perubahan yang ada pada ISO 9001:2015 jika dibandingkan dengan seri sebelumnya yaitu ISO 9001:2008 adalah sebagai berikut.

.KLAUSUL (1) – SCOPE.

Pada ISO 9001: 2008 istilah “Product” digunakan, Istilah “Product“ telah diubah menjadi “Product and Service” untuk menghindari makna rancu maka istilah produk dan jasa dibedakan secara jelas. Perubahan yang terlihat jelas di klausul (1) ialah hilangnya klausul (1.2) mengenai penerapan klausul di ISO 9001: 2015, artinya ISO 9001: 2015 pada dasarnya tidak mengizinkan adanya pengecualian klausul atau tidak diterapkannya salah satu klausul. Karena ada pada pernyataan klausul 1 – ISO 9001: 2015 yang tertulis : “Semua persyaratan standar internasional ISO 9001: 2015 bersifat umum (generic) dan dimaksudkan untuk bisa diterapkan oleh organisasi apapun jenis dan ukuran organisasinya, atau apakah ia bergerak di bidang barang maupun jasa.” Setelah dilakukan revisi yang tepat, salah satu persyaratan ISO 9001: 2015 tidak termasuk dalam lingkup asalkan tidak mempengaruhi kemampuan organisasi atau tanggung jawab untuk memastikan kesesuaian produk dan jasa dan peningkatan kepuasan pelanggan.

KLAUSUL (2) – NORMATIVE REFERENCE

Tidak ada perubahan pada klausul ini.

KLAUSUL (3) – TERMS AND DEFINITIONS

Tidak ada perubahan pada klausul ini.

KLAUSUL (4) – CONTEXT OF THE ORGANIZATION

Pada ISO 9001: 2008 klausul (4) menjelaskan tentang persyaratan dokumen, adapun pada ISO 9001: 2015 sekadar membicarakan konteks organisasi. Sedangkan pada klausul (4) ISO 9001: 2015 membahas mengenai manajemen resiko dimana organisasi diminta untuk menetapkan hubungan antar proses, isu internal dan eksternal, serta hubungan dengan berbagai pihak. Organisasi juga diminta untuk menetapkan ruang lingkup penerapan ISO 9001: 2015. ISO 9001: 2015 menyatakan bahwa seluruh klausul dapat diterapkan untuk seluruh jenis organisasi, ISO 9001: 2015 pada dasarnya tidak mengizinkan adanya pengecualian klausul atau tidak diterapkannya salah satu klausul, namun pada Klausul (4.3) ISO 9001: 2015 tetap mengizinkan adanya pengecualian sepanjang ada justifikasi yang dapat diterima.

KLAUSUL (5) – LEADERSHIP

Secara global, isi dari klausul (5) ISO 9001: 2015 tidak berbeda dengan ISO 9001: 2008 yang membicarakan seputar kewajiban yang harus dijalankan oleh Top-management. Persyaratan lama seperti kebijakan mutu dan sasaran mutu tetap wajib dibuat, hanya saja manual mutu yang tidak lagi menjadi keharusan pada versi ISO 9001: 2015. Hal yang berbeda dari ISO 9001: 2015 adalah ditiadakannya kewajiban untuk menunjuk Management-Representative (perwakilan manajemen) meskipun keberadaannya tidak melanggar klausul ISO 9001: 2015.

KLAUSUL (6) – PLANNING

Penekanan Klausul (6) pada ISO 9001: 2015 adalah untuk meminta setiap organisasi untuk mengenali resiko dan peluang, berupaya untuk meraih peluang dan mencegah, mengurangi, dan menangani resiko. Klausul ini merupakan hal yang baru dibanding ISO 9001: 2008, khususnya Klausul (6.2) yang berbicara tentang kewajiban setiap organisasi untuk memenuhi sasaran mutu dari organisasi dengan menetapkan rencana tindakan yang sesuai.

KLAUSUL (7) – SUPPORT

Dalam pengelompokan klausul pada ISO 9001: 2015 terlihat lebih rapi, semua yang berhubungan dengan support (proses pendukung) seperti dokumen, infrastuktur, sumber daya manusia, kompetensi, sosialisasi dan komunikasi, sampai alat ukur, semuanya dikumpulkan pada klausul (7). Klausul ini seperti klausul (4), (6), dan (7.6) pada ISO 9001: 2008 yang diringkas menjadi satu.

Prosedur dokumentasi ISO 9001: 2008 telah digantikan oleh “Documented Information”. Klausul (7.5) ISO 9001: 2015 membahas tentang informasi terdokumentasi, dengan menggunakan istilah umum “Documented Information”, ISO memberi kebebasan untuk menetapkan dokumen yang dibutuhkan apakah dalam bentuk prosedur atau record. Lain halnya dengan ISO 9001: 2008 yang secara tegas meminta untuk dibuat 6 prosedur wajib dan record di beberapa tempat. Istilah enam prosedur wajib dan form wajib ditiadakan karena organisasi diberi kebebasan memilih apakah mereka cukup dengan form atau dalam bentuk prosedur.

KLAUSUL (8) – OPERATION

Semua hal yang berkaitan mengenai operasional organisasi dibahas pada klausul 8 ISO 9001: 2015 seperti pada klausul (7) ISO 9001: 2008,hanya saja klausul (8) ISO 9001: 2015 telah disempurnakan karena membahas seluruh aspek operasional mulai dari perencanaan, pelaksanaan produk dan atau penyediaan jasa, hubungan dengan pelanggan dan pihak ketiga, penyimpanan dan perlindungan produk & jasa hingga penanganan issue selama proses operasional.

KLAUSUL(9) – PERFORMANCE EVALUATION

Segala hal yang berkaitan mengenai evaluasi dikumpulkan pada klausul (9) ini, seperti Audit Internal, pengukuran serta pemantauan proses dan kepuasan pelanggan, analisis dan evaluasi proses, dan Rapat Tinjauan Manajemen (RTM). Klausul (9) menunjukkan bahwa ISO 9001: 2015 lebih baik dalam pengelompokan klausul.

KLAUSUL (10) – IMPROVEMENT

Klausul (10) berisi tentang hal upaya perbaikan yang berkesinambungan yang harus dilakukan organisasi. Konsep yang hampir sama dengan konsep Corrective-Action dan Non-Conformity pada ISO 9001: 2008 hanya saja pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan manajemen resiko dimana tidak ada lagi istilah Preventive-Action namun yang ada adalah resiko dan peluang.

Kesimpulan

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa perubahan pokok dalam ISO 9001: 2015 adalah sebagai berikut :

  1. Manual Mutu dan Management-Representative tidak lagi menjadi persyaratan meski keberadaannya tidak menjadi masalah.
  2. Istilah 6 prosedur wajib dan form wajib ditiadakan.
  3. Menggunakan pendekatan manajemen resiko (resiko dan peluang) sebagai konsep pencegahan, pengurangan, serta penanganan masalah.
  4. Penekanan pada konteks organisasi dan Risk Based Thinking.
  5. Standar ini tidak termasuk klausul khusus untuk “Preventive-Action”. Istilah “Document” dan “Record” telah diganti dengan istilah “Documented Information”.
  6. Istilah “Product“ telah diubah menjadi “Product and Service”.
  7. Ada penambahan istilah “Improvement”
  8. Istilah “Outsourcing” sekarang adalah sebagai penyedia, istilah “Purchased Product” telah diganti dengan “Externally provided products and services” dan istilah “Supplier” telah diganti dengan “External Provider” yang merupakan kontrol dari semua penyediaan alamat barang dan jasa dalam bentuk ketentuan eksternal.
  9. Standar ISO 9001: 2015 tidak membuat referensi untuk pengecualian yang hanya terdapat pada klausul 7 dalam ISO 9001: 2008.
  10. Istilah “Work Environment” yang digunakan dalam ISO 9001: 2008 telah diganti dengan “Environment for the operation of processes”.

TEXTILE WASTE MANAGEMENT ( Bag.2 )

Untuk mempercepat transisi menuju integrasi penggunaan kembali (reuse) yang bernilai lebih tinggi untuk bahan limbah (waste material), konsep klasik pengelolaan limbah tekstil yang diterapkan saat ini tidak cukup. Dengan memperkenalkan konsep Perluasan Tanggung JawabProdusen (Extended Producer Responsibility / EPR) – prinsip kebijakan untuk mempromosikan perbaikan lingkungan siklus hidup total dari sistem produk – tanggung jawab produsen produk diperluas ke berbagai bagian siklus hidup produk, terutama untuk pengambilan kembali, pemulihan dan pembuangan akhir produk.

Jika skema EPR belum ditentukan oleh pemerintah, produsen bebas memilih dan menentukan spesifikasi EPR yang ingin mereka terapkan, misalnya dengan mengikuti pengumpulan sampah kolektif. Saat ini, ada sekitar 400 skema EPR wajib yang beroperasi di seluruh dunia. Selain menunjukkan komitmen yang kuat untuk menjaga lingkungan, skema EPR dapat membantu perusahaan atau produsen untuk meminimalkan dampak lingkungan yang mereka hasilkan.

Untuk mempraktikkan EPR, ada tiga tahap telah diidentifikasi oleh ahli Close Loop Fashion sebagai elemen kunci untuk mencapai aplikasi menyeluruh.

Sumber: Closed Loop Fashion

(1) Tindakan preventif: Perbaikan sistem dan desain produk. Hal ini dapat dicapai melalui penerapan sistem Lean Management, Pemetaan limbah untuk mengidentifikasi hotspot limbah dalam aliran produksi dan strategi untuk menghilangkannya, serta merancang limbah yang sudah pada tahap ide / pembuatan desain dan pengembangan produk.

(2) Integrasi Sistem Pengelolaan Limbah Tekstil yang tepat di sepanjang aliran produksi, termasuk pengumpulan, pemilahan, penyimpanan, pelabelan, perdagangan, pembuangan, dan pemantauan.

(3) Integrasi kemungkinan penggunaan kembali: Pemanfaatan produk dan kualitas bahan yang tinggi melalui pengumpulan, penggunaan kembali, dan daur ulang yang efektif dengan mengikuti tingkat hierarki limbah.

Pedoman Pengelolaan Limbah Textile

Untuk pemrosesan yang tepat dari limbah tekstil yang dihasilkan, strategi TWM khusus harus diterapkan. Tergantung pada aset pabrik tertentu, sistem TWM dapat menghasilkan integrasi sederhana ke struktur pengelolaan limbah yang sudah ada atau dalam metode dan prosedur yang benar-benar baru. Prosedur penerapan TWM yang berbeda disajikan secara rinci untuk pengumpulan, pemilahan, penyimpanan, penggunaan kembali, dan daur ulang sampah.

A. Collection (Pengumpulan)

Pengelolaan Limbah Tekstil (TWM) dimulai dengan pengumpulan limbah produksi di berbagai titik produksi limbah di sepanjang rantai produksi. Titik timbulan limbah tekstil biasanya berupa langkah-langkah proses tertentu, mesin atau proses kerja manual seperti kendali mutu (QC), tetapi dapat bervariasi tergantung pada pengaturan khusus pabrik.

Strategi pengumpulan yang efektif sangat penting untuk penerapan sistem pengelolaan limbah yang efisien. Semua langkah selanjutnya, seperti pemilahan dan penyimpanan bergantung pada bagaimana limbah tekstil dikumpulkan sejak dan setelah siklus produksi.

Berikut ini, praktik terbaik disajikan untuk integrasi sistem pengumpulan yang sesuai untuk limbah tekstil pra-konsumen:

B. Kumpulkan oleh dan untuk pesanan tunggal (Collect by and for single orders):

Mengumpulkan sisa tekstil yang dihasilkan oleh satu pesanan produksi berarti menyortir secara eksklusif satu jenis kandungan bahan sisa. Ini akan menghasilkan 100% keterlacakan konten material dan akan mengurangi waktu penyortiran nanti. Melacak asal material dan kandungan serat sangat penting untuk daur ulang atau penjualan kembali limbah lebih lanjut. Selain itu, mengumpulkan sisa makanan di titik pembangkitan akan membantu dalam memisahkan bahan terlarang yang menurut kontrak tidak boleh dijual kembali atau digunakan kembali dengan cara apa pun. Oleh karena itu, penting untuk mengumpulkan langsung di mesin dan di meja potong selama produksi satu pesanan produk.

C. Buat sistem yang jelas untuk tempat pengumpulan (Create a clear system for the points of collection):

Untuk mendukung pekerja dalam mengumpulkan limbah tekstil secara efisien, tempat pengumpulan harus selalu mudah dijangkau, baik ditempatkan di dekat mesin maupun di tempat strategis lainnya di unit produksi. Titik pengumpulan bisa berlipat ganda tergantung pada pengaturan dan kebutuhan pabrik. Tempat sampah, wadah atau troli yang digunakan untuk mengumpulkan sisa makanan harus memiliki tanda yang jelas atau sistem warna berbeda untuk mengidentifikasi kategori sampah yang akan dikumpulkan.

D. Pra-penyortiran dan pelabelan yang jelas (Pre-sorting and clear labelling):

Menurut jenis limbah tertentu yang dihasilkan pada langkah produksi yang berbeda, sistem pemilahan awal dapat diterapkan untuk beberapa kategori dasar seperti Ukuran dan Isi Bahan. Penting untuk memberi label yang jelas pada kantong atau bal sisa yang sudah ada pada tahap ini, untuk memudahkan identifikasi isinya nanti. Metode lain dapat digunakan untuk pelabelan (misalnya: saat bekerja dengan pekerja yang buta huruf), seperti penggunaan simbol atau warna tas yang berbeda untuk isi atau ukuran bahan yang berbeda.

Prosedur ini akan mendukung langkah pemilahan selanjutnya dan mempermudah pemilahan & penyimpanan yang benar untuk daur ulang, penggunaan kembali, atau penjualan kembali (recycle, reuse, or resale) limbah tekstil.

E. Buat area pengeringan untuk limbah tekstil basah (Create a drying area for wet textile waste):

Pengeringan kain lap basah (drying of wet fabric) merupakan masalah yang bermasalah bagi banyak pabrik saat melihat pengurangan limbah tekstil mereka. Jenis limbah ini sering dipisahkan sebagai ‘terkontaminasi’ atau dinyatakan sebagai ‘berbahaya’ dan dikirim untuk dibakar.

Penetapan area pengeringan khusus untuk dehumidifikasi kain basah yang benar diperlukan untuk memastikan kemungkinan penggunaan lebih lanjut. Area khusus dapat ditempatkan di dalam atau di luar dan harus cukup besar untuk meregangkan kain pada tali jemuran. Area pengeringan harus menjadi ruang tertutup untuk melindungi bahan dari hujan. Meskipun solusi ini hanya dapat diterapkan pada musim kemarau, penerapannya sangat disarankan.

F. Klasifikasi limbah menjadi dapat digunakan kembali / didaur ulang dan terkontaminasi / berbahaya (Classification of waste into reusable/ recyclable and contaminated/ hazardous) :

Untuk menghindari pencampuran limbah yang terkontaminasi dengan bahan yang dapat digunakan kembali atau didaur ulang, identifikasi dan pemilahan limbah berbahaya harus sudah dilakukan pada tahap pengumpulan limbah. ( Bersambung ).

TEXTILE WASTE MANAGEMENT ( Bag.1)

Jumlah limbah tekstil pra-konsumen yang sangat besar saat ini di negara-negara penghasil garmen telah menyebabkan masalah lingkungan yang sangat negatif, tetapi jika ditangani dengan benar, akan ada peluang untuk mengatasi masalah pasokan saat ini. Menurut sebuah studi yang dilakukan di pabrik tekstil China dan Bangladesh, hingga 47% limbah dihasilkan oleh proses produksi tekstil konvensional di pabrik terintegrasi vertikal. Pada 2017, 11,2 juta ton limbah tekstil berakhir di tempat pembuangan sampah, menurut data Badan Perlindungan Lingkungan (EPA). Industri ini kurang memperhatikan limbah daripada masalah ekologi lainnya, tetapi penelitian menunjukkan bahwa sistem pengelolaan limbah yang lebih baik dapat menghemat hingga € 4 miliar per tahun.

Gambar 1. Piramida TWM Berdasarkan Priority Vs Qty

Penerapan strategi TWM di pabrik tekstil sangat penting untuk terciptanya sistem industri loop tertutup yang mampu mengurangi limbah di sumbernya dan memulihkan, menggunakan kembali, dan mendaur ulang limbah yang dihasilkan yang tidak dapat dihindari. Infrastruktur logistik ulang, penggunaan ulang, dan daur ulang, serta aliran bahan yang efisien untuk limbah tekstil di negara-negara produksi merupakan hal mendasar untuk pembentukan loop tambahan untuk limbah tekstil pra dan pasca konsumen.

Melalui kebijakan Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (Extended Producer Responsibility / EPR), pengecer, merek, dan produsen didorong untuk menemukan solusi melingkar untuk memperpanjang masa pakai produk dan menerapkan mekanisme yang efisien untuk menghindari dan memulihkan limbah. Saat ini, ada sekitar 400 skema EPR wajib yang beroperasi di seluruh dunia dan dalam beberapa tahun ke depan, undang-undang terkait EPR untuk industri fashion akan berlaku di semua negara UE sebagai bagian dari Rencana Tindakan Ekonomi Sirkuler Eropa yang berlabuh di Green Deal.

Gambar 2. Tahapan Aktivitas TWM

Untuk meningkatkan operasi bisnis dan ketahanan lingkungan pabrik dalam perspektif jangka panjang dan untuk memastikan sumber bahan mentah yang tersedia secara lokal, integrasi penggunaan kembali dan daur ulang serta pilihan sirkularitas untuk limbah tekstil adalah kuncinya. Kegiatan pemetaan di tempat untuk mengidentifikasi potensi untuk praktik TWM yang lebih baik dan efisiensi sumber daya dilakukan untuk mencapai sistem terintegrasi  ( bersambung ).

 

SKEMA GLOBAL RECYCLE STD

Secara garis besar prinsip sistem GRS adalah sebagai berikut:

Bahan baku adalah material recycle yang berasal dari dua sumber yaitu pre consumer recycle dan post consumer recycle. Bahan baku tersebut dikategorikan sesuai dengan jenis materialnya, misal jenis plastik seperti PET, PP, PVC, Polycarbonat, HDPE dan yang lain. Setelah itu dilakukan proses cutting atau crushing, sehingga menjadi bagian lebih kecil. Untuk proses flakes, kemudian dilakukan proses washing dengan menggunakan soda caustic dengan suhu sekitar 80-90’C dalam suatu tangki yang dipasang propeler/baling-baling. Fungsi soda caustic disini adalah untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada permukaan plastik baik tanah, minyak, lem atau kotoran yang lain Dan suhu operasinya dibuat sekitar 80-90’C adalah agar soda caustic bekerja maksimal, sehingga bisa merontokkan jenis-jenis kotoran yang melekat di permukaan plastik.

Selanjutkan adalah proses rinsing/pembilasan, bertujuan untuk menghilangkan kandungan soda caustic yang menempel pada permukaan plastik. Pada proses ini minimal dilakukan 2x, agar permukaan plastik bersih. Setelah itu proses sortir di konveyor secara manual, hal ini bertujuan agar impurities lain yang masih terikut bisa diambil. Berikutnya adalah proses pengeringan/dryer, biasanya menggunakan udara panas yang ditiupkan. Hal ini bertujuan untuk mengeringkan dan mencapai target kadar air sesuai dengan persyaratan dari customer. Proses terakhir adalah pengemasan dan penimbangan, sebelum disimpan di gudang.

Produk yang dihasilkan di plant A, menjadi bahan baku di plant B. dan begitu seterusnya hingga mencapai end user yang digunakan untuk fashion. Proses transfer antar plant ini, untuk sistem GRS menggunakan TC/Transaction Certificate. Proses pengajuan dan approval ini berlangsung di web Peterson Control Union/PCU. Dengan persyaratan pengajuan TC secara umum adalah sebagai berikut. 1. Dokumen mass balance, 2. Surat Jalan, 3. Invoice, 4. Packing list ( untuk customer domestik ), sedangkan untuk customer luar negeri, hampir sama dengan customer domestik hanya untuk surat jalannya diganti menjadi Bill of Ladding/BL. Pengajuan TC ini mempunyai durasi waktu tertentu, maksimal adalah 6 bulan dari tanggal pengiriman yang tercantum pada surat jalan atau BL.

Berdasarkan jenisnya TC ini dibagi menjadi dua yaitu Single TC dan Multiple TC, dimana masing-masing mempunyai perhitungan fee yang berbeda-beda. Untuk customer yang sering melakukan transaksi pengiriman, akan lebih ekonomis jika menggunakan multiple TC. Namun semua tergantung dari permintaan customer urgent atau tidak TC yang diminta.

Demikian uraian singkat terkait GRS, semoga bisa menambah wawasan anda. Jika ada hal yang ditanyakan, silahkan menghubungi kami via telepon atau email ( sudah tercantum pada menu kontak ). Barakallaahu fiikum.

 

 

GLOBAL RECYCLE STANDARD

 

Tekanan dari Green Peace, organisasi dunia yang fokus terhadap kelestarian lingkungan dan perdamaian dunia terkait kandungan bahan kimia berbahaya dan limbah proses manufaktur yang dihasilkan, memacu setiap proses manufaktur harus menekan adanya kandungan bahan kimia yang berbahaya dan limbah buangan proses. Oleh karena itu, negara-negara maju seperti negara-negara eropa dan amerika membuat aturan atau rules tertentu untuk memproteksi kawasan/areanya dari sebaran produk yang mengandung bahan-bahan yang tidak aman serta mensyaratkan proses fabrikasi dari pihak produsen harus ramah lingkungan.

Akibat kondisi diatas, maka bermunculanlah aturan/standard seperti REACH, ZDHC, ECO Passport by Oeko-Tex, GRS, dan lainnya. Dimana didalamnya tercantum limit bahan bahan kimia yang dilarang yang terkandung pada produk yang boleh masuk ke wilayah mereka.

Dalam artikel ini, kami akan mengulas GRS lebih detil. Persyaratan sertifikasi GRS ini adalah kandungan bahan baku recycle minimal 20%. Untuk bahan baku recycle dibagi menjadi dua kategori yaitu post consumer recycle dan pre consumer recycle.

Post consumer recycle adalah bahan baku recycle yang berasal dari kemasan-kemasan yang sudah digunakan oleh konsumer seperti botol air minum dalam kemasan/amdk, botol jus atau botol minyak goreng. Botol-botol bekas yang sudah dibuang ke tempat sampah, selanjutnya dikumpulkan dan sortir sesuai dengan jenis bahannya misal pet, pp, hdpe, polycarbonat atau pvc. Setelah terpisah, dilakukan proses crusher dan pencucian menggunakan detergen/soda caustic dengan suhu operasi minimal 75’C dengan retensi sekitar 25 menit. Setelah itu, dilakukan pembilasan/rinsing sebanyak 2x. Tujuannya adalah agar flakes yang dihasilkan bersih dari kandungan soda caustic. Selanjutnya adalah proses pengeringan, proses ini biasanya menggunakan udara panas yang ditiup. Target kadar air pada produk flakes itu sendiri < 1%. Proses terakhir adalah pengemasan dalam jumbo bag diteruskan dengan penimbangan. Sebelum flakes tersebut diserahterimakan di gudang untuk disimpan sebelum proses stuffing.

Pre consumer recycle adalah bahan baku recycle yang berasal dari sisa-sisa proses fabrikasi yang dilakukan. Misal proses pembuatan benang, maka akan menghasilkan filament-filament yang cacat/defeks secara kualitas. Bahan-bahan ini selanjutnya diproses untuk dijadikan sebagai bahan baku proses yang lain.

Kantor GRS ini berpusat di Netherland, namun segmentasi dari sistem tersebut tersebar di seluruh dunia. Bukan hanya di bidang industri saja namun juga meluas ke sektor perkebunan, pertanian dan perikanan.

Berikut ini adalah lampiran dari daftar isi GRS.

Anda tertarik untuk mengimplementasikan GRS ini di perusahaan anda, silahkan hubungi Haumi Consulting.

ALASAN PENTINGNYA SERTIFIKASI ISO 9001

Dengan sertifikasi ISO 9001 bisa membantu anda dalam mengoptimalkan proses serta mengurangi biaya, serta relevan dalam mengatasi persyaratan yang diinginkan oleh konsumen terhadap produk. Tahapan-tahapan proses yang harus dijalankan dalam proses sertifikasi ini akan dibahas di bawanh.

Dengan sertifikasi yang diakui di tingkat internasional untuk sistem manajemen mutu Anda menurut ISO 9001, Anda dapat memperoleh keunggulan bersaing dan memperbesar kesempatan Anda untuk masuk ke pasar. Selain membangun orientasi yang kuat terhadap konsumen, sertifikasi juga menawarkan alat bantu bagi konsumen dan mitra usaha Anda dalam mengambil keputusan. Anda dapat juga meningkatkan efisiensi dalam perusahaan Anda dan menyempurnakan proses dan struktur Anda. Hal ini membuat Anda dapat menghemat biaya lebih banyak lagi dengan tetap menekan risiko kewajiban Anda. Anda juga mendapatkan manfaat dari semakin meningkatnya motivasi karyawan melalui komunikasi yang lebih baik dan informasi yang lebih tersedia.

Tahapan Sertifikasi ISO 9001

  1. Audit awal (opsional)
  2. Audit Sertifikasi: kajian dokumentasi dan penilaian pelaksanaan praktik
  3. Penerbitan Sertifikasi dan dimasukkan ke dalam basis data sertifikasi daring Certipedia
  4. Audit pengawasan tahunan
  5. Sertifikasi ulang dalam waktu tiga tahun

MANAJEMEN MUTU DENGAN SERTIFIKASI ISO 9001

Banyak perusahaan yang mendapatkan keuntungan dari sistem manajemen mutu yang disertifikasi menurut ISO 9001, menikmati kinerja proses puncak dan keunggulan kompetitif internasional. Sertifikasi ISO 9001 memastikan bahwa orientasi kualitas dijalani oleh setiap karyawan Anda setiap hari.
 

Flow chart yang dirancang dengan baik berkontribusi secara meyakinkan terhadap kualitas produk dan layanan Anda. ISO 9001 menuntut bahwa sistem manajemen mutu menentukan siapa yang bertanggung jawab atas aktivitas yang relevan dengan kualitas dan prosedur mana yang harus diikuti. Untuk membangun manajemen kualitas yang efektif di perusahaan Anda, kami mempertimbangkan persyaratan dan perspektif spesifik Anda. Standar ini juga membutuhkan pengawasan yang berkesinambungan, yang melibatkan evaluasi ulang internal yang konsisten dari sistem, mempromosikan proses perbaikan berkelanjutan.

Dengan pendekatan yang berorientasi pada proses, sistem manajemen mutu menurut ISO 9001 cocok untuk semua industri dan perusahaan – mulai dari perusahaan baru hingga perusahaan global. Kami memiliki pengalaman bermitra dengan organisasi dari semua ukuran dan dari semua sektor dan mampu menyediakan sumber daya yang Anda butuhkan untuk sertifikasi ISO 9001 yang sukses.                                                                         

Kami berpengalaman dalam melakukan set up awal dan berkolaborasi dengan badan sertifkasi untuk mengesahkan sistem manajemen kualitas Anda sesuai dengan kebutuhan individu perusahaan Anda. 


Jika Anda juga ingin mengoptimalkan sistem manajemen kualitas Anda dengan sertifikasi menurut ISO 9001, silahkan menghubungi alamat kami yang tertera pada kontak.