TEXTILE WASTE MANAGEMENT ( Bag.2 )

Untuk mempercepat transisi menuju integrasi penggunaan kembali (reuse) yang bernilai lebih tinggi untuk bahan limbah (waste material), konsep klasik pengelolaan limbah tekstil yang diterapkan saat ini tidak cukup. Dengan memperkenalkan konsep Perluasan Tanggung JawabProdusen (Extended Producer Responsibility / EPR) – prinsip kebijakan untuk mempromosikan perbaikan lingkungan siklus hidup total dari sistem produk – tanggung jawab produsen produk diperluas ke berbagai bagian siklus hidup produk, terutama untuk pengambilan kembali, pemulihan dan pembuangan akhir produk.

Jika skema EPR belum ditentukan oleh pemerintah, produsen bebas memilih dan menentukan spesifikasi EPR yang ingin mereka terapkan, misalnya dengan mengikuti pengumpulan sampah kolektif. Saat ini, ada sekitar 400 skema EPR wajib yang beroperasi di seluruh dunia. Selain menunjukkan komitmen yang kuat untuk menjaga lingkungan, skema EPR dapat membantu perusahaan atau produsen untuk meminimalkan dampak lingkungan yang mereka hasilkan.

Untuk mempraktikkan EPR, ada tiga tahap telah diidentifikasi oleh ahli Close Loop Fashion sebagai elemen kunci untuk mencapai aplikasi menyeluruh.

Sumber: Closed Loop Fashion

(1) Tindakan preventif: Perbaikan sistem dan desain produk. Hal ini dapat dicapai melalui penerapan sistem Lean Management, Pemetaan limbah untuk mengidentifikasi hotspot limbah dalam aliran produksi dan strategi untuk menghilangkannya, serta merancang limbah yang sudah pada tahap ide / pembuatan desain dan pengembangan produk.

(2) Integrasi Sistem Pengelolaan Limbah Tekstil yang tepat di sepanjang aliran produksi, termasuk pengumpulan, pemilahan, penyimpanan, pelabelan, perdagangan, pembuangan, dan pemantauan.

(3) Integrasi kemungkinan penggunaan kembali: Pemanfaatan produk dan kualitas bahan yang tinggi melalui pengumpulan, penggunaan kembali, dan daur ulang yang efektif dengan mengikuti tingkat hierarki limbah.

Pedoman Pengelolaan Limbah Textile

Untuk pemrosesan yang tepat dari limbah tekstil yang dihasilkan, strategi TWM khusus harus diterapkan. Tergantung pada aset pabrik tertentu, sistem TWM dapat menghasilkan integrasi sederhana ke struktur pengelolaan limbah yang sudah ada atau dalam metode dan prosedur yang benar-benar baru. Prosedur penerapan TWM yang berbeda disajikan secara rinci untuk pengumpulan, pemilahan, penyimpanan, penggunaan kembali, dan daur ulang sampah.

A. Collection (Pengumpulan)

Pengelolaan Limbah Tekstil (TWM) dimulai dengan pengumpulan limbah produksi di berbagai titik produksi limbah di sepanjang rantai produksi. Titik timbulan limbah tekstil biasanya berupa langkah-langkah proses tertentu, mesin atau proses kerja manual seperti kendali mutu (QC), tetapi dapat bervariasi tergantung pada pengaturan khusus pabrik.

Strategi pengumpulan yang efektif sangat penting untuk penerapan sistem pengelolaan limbah yang efisien. Semua langkah selanjutnya, seperti pemilahan dan penyimpanan bergantung pada bagaimana limbah tekstil dikumpulkan sejak dan setelah siklus produksi.

Berikut ini, praktik terbaik disajikan untuk integrasi sistem pengumpulan yang sesuai untuk limbah tekstil pra-konsumen:

B. Kumpulkan oleh dan untuk pesanan tunggal (Collect by and for single orders):

Mengumpulkan sisa tekstil yang dihasilkan oleh satu pesanan produksi berarti menyortir secara eksklusif satu jenis kandungan bahan sisa. Ini akan menghasilkan 100% keterlacakan konten material dan akan mengurangi waktu penyortiran nanti. Melacak asal material dan kandungan serat sangat penting untuk daur ulang atau penjualan kembali limbah lebih lanjut. Selain itu, mengumpulkan sisa makanan di titik pembangkitan akan membantu dalam memisahkan bahan terlarang yang menurut kontrak tidak boleh dijual kembali atau digunakan kembali dengan cara apa pun. Oleh karena itu, penting untuk mengumpulkan langsung di mesin dan di meja potong selama produksi satu pesanan produk.

C. Buat sistem yang jelas untuk tempat pengumpulan (Create a clear system for the points of collection):

Untuk mendukung pekerja dalam mengumpulkan limbah tekstil secara efisien, tempat pengumpulan harus selalu mudah dijangkau, baik ditempatkan di dekat mesin maupun di tempat strategis lainnya di unit produksi. Titik pengumpulan bisa berlipat ganda tergantung pada pengaturan dan kebutuhan pabrik. Tempat sampah, wadah atau troli yang digunakan untuk mengumpulkan sisa makanan harus memiliki tanda yang jelas atau sistem warna berbeda untuk mengidentifikasi kategori sampah yang akan dikumpulkan.

D. Pra-penyortiran dan pelabelan yang jelas (Pre-sorting and clear labelling):

Menurut jenis limbah tertentu yang dihasilkan pada langkah produksi yang berbeda, sistem pemilahan awal dapat diterapkan untuk beberapa kategori dasar seperti Ukuran dan Isi Bahan. Penting untuk memberi label yang jelas pada kantong atau bal sisa yang sudah ada pada tahap ini, untuk memudahkan identifikasi isinya nanti. Metode lain dapat digunakan untuk pelabelan (misalnya: saat bekerja dengan pekerja yang buta huruf), seperti penggunaan simbol atau warna tas yang berbeda untuk isi atau ukuran bahan yang berbeda.

Prosedur ini akan mendukung langkah pemilahan selanjutnya dan mempermudah pemilahan & penyimpanan yang benar untuk daur ulang, penggunaan kembali, atau penjualan kembali (recycle, reuse, or resale) limbah tekstil.

E. Buat area pengeringan untuk limbah tekstil basah (Create a drying area for wet textile waste):

Pengeringan kain lap basah (drying of wet fabric) merupakan masalah yang bermasalah bagi banyak pabrik saat melihat pengurangan limbah tekstil mereka. Jenis limbah ini sering dipisahkan sebagai ‘terkontaminasi’ atau dinyatakan sebagai ‘berbahaya’ dan dikirim untuk dibakar.

Penetapan area pengeringan khusus untuk dehumidifikasi kain basah yang benar diperlukan untuk memastikan kemungkinan penggunaan lebih lanjut. Area khusus dapat ditempatkan di dalam atau di luar dan harus cukup besar untuk meregangkan kain pada tali jemuran. Area pengeringan harus menjadi ruang tertutup untuk melindungi bahan dari hujan. Meskipun solusi ini hanya dapat diterapkan pada musim kemarau, penerapannya sangat disarankan.

F. Klasifikasi limbah menjadi dapat digunakan kembali / didaur ulang dan terkontaminasi / berbahaya (Classification of waste into reusable/ recyclable and contaminated/ hazardous) :

Untuk menghindari pencampuran limbah yang terkontaminasi dengan bahan yang dapat digunakan kembali atau didaur ulang, identifikasi dan pemilahan limbah berbahaya harus sudah dilakukan pada tahap pengumpulan limbah. ( Bersambung ).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *